“Kembali kepada Rakyat, Menyambut Ramadhan dengan Hati yang Bersih”

 Pada Selasa yang teduh, 17 Februari 2026, Gedung IKPS Dumai di Jalan Belimbing Gang Kandis, Kelurahan Rimba Sekampung, tidak sekadar menjadi tempat pertemuan. Ia berubah menjadi ruang silaturahmi, ruang hati, ruang tempat amanah dan harapan saling bertemu.




Hari itu adalah agenda reses anggota DPRD Provinsi Riau dari Fraksi PAN, dr. H. Sunaryo. Namun suasananya jauh dari kesan formal dan kaku. Yang terasa justru hangat, akrab, dan penuh kekeluargaan. Di antara para pengurus, ninik mamak, Datuuk Rang Kayo, dan seluruh warga kekeluargaan pesisir selatan Kota Dumai, beliau berdiri bukan sebagai pejabat, tetapi sebagai anak negeri yang kembali pulang menemui rakyatnya.

Dengan suara yang tenang namun sarat makna, beliau berkata:

“Dulu saya datang meminta dukungan rakyat. Sekarang saya harus datang kembali kepada rakyat untuk bersilaturahmi dan menyampaikan hal-hal yang perlu diketahui oleh rakyat demi kepentingan rakyat.”

Kalimat itu sederhana. Namun di dalamnya ada pengakuan, ada tanggung jawab, ada kesadaran bahwa jabatan bukanlah mahkota, melainkan amanah. Reses bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi janji yang harus ditepati—bahwa wakil rakyat tak boleh jauh dari denyut nadi masyarakatnya.

Di penghujung sambutan, beliau menyampaikan ucapan yang begitu tulus:

“Selamat menunaikan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah/2026. Kami sekeluarga mohon maaf lahir dan batin.”

Di sampingnya, sang istri tercinta, Buk Hj. Serlyana, turut mendampingi. Kehadiran keluarga menambah kesan bahwa silaturahmi ini bukan hanya tugas politik, tetapi juga ikatan kemanusiaan.


Tausyiah yang Menyentuh Relung Jiwa

Acara semakin khidmat ketika H. Samsul Hilal, Ketua Banom Mubalig-Mubaligh Dewan Masjid Indonesia Dumai, diberi kesempatan menyampaikan tausyiah dan memimpin doa.

Suasana mendadak hening. Setiap wajah menunduk, setiap hati bersiap menerima nasihat.

Beliau membuka dengan firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Ayat itu meluncur lembut, namun menghentak kesadaran. Bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah perjalanan menuju takwa.

Beliau mengingatkan, perbedaan penetapan awal Ramadhan—apakah mengikuti keputusan Muhammadiyah ataupun pemerintah—bukanlah sesuatu yang patut dipertajam. Yang jauh lebih penting adalah keikhlasan menjalankan ibadahnya. Jangan sampai perbedaan tanggal merusak persaudaraan.

Inti dari takwa, kata beliau, adalah kemampuan membangun komunikasi yang baik.

Komunikasi kepada Allah.
Melalui sholat yang khusyuk.
Puasa yang tulus.
Al-Qur’an yang dibaca dengan hati.
Doa yang dipanjatkan dengan harap.
Zikir yang menghidupkan jiwa.

Dan komunikasi kepada sesama manusia.
Dengan saling memaafkan.
Saling menolong dalam kebajikan.
Menjaga lisan.
Menguatkan persaudaraan.

Ramadhan bukan hanya ibadah vertikal, tetapi juga perbaikan horizontal. Bukan hanya memperbaiki hubungan dengan Tuhan, tetapi juga memperindah hubungan dengan manusia.

Doa pun dipanjatkan. Tangan-tangan terangkat. Beberapa mata tampak berkaca-kaca. Di antara mereka ada para ninik mamak yang memikul adat, ada Datuuk Rang Kayo penjaga marwah, ada masyarakat pesisir selatan yang hidup dalam kebersahajaan namun kaya akan nilai persaudaraan.


Reses yang Menjadi Momentum Ruhani

Pertemuan itu bukan sekadar forum menyerap aspirasi. Ia menjelma menjadi momentum ruhani menjelang Ramadhan. Ada rasa saling memaafkan yang tumbuh. Ada tekad memperbaiki diri yang bersemi.

Gedung IKPS sore itu menjadi saksi bahwa politik bisa berjalan berdampingan dengan nilai-nilai agama. Bahwa jabatan dapat direndahkan oleh kesadaran spiritual. Bahwa pemimpin dan rakyat dapat duduk sejajar dalam doa.

Ramadhan 1447 Hijriah pun terasa semakin dekat. Seolah mengetuk pintu hati satu per satu.

Dan dari Gedung IKPS Dumai itu, lahir harapan:
Semoga puasa kali ini menjadikan kita lebih bertakwa.
Lebih lembut dalam berkata.
Lebih ringan dalam memaafkan.
Lebih kuat dalam membantu sesama.

Sebab pada akhirnya, yang akan dikenang bukanlah jabatan, bukan pula gelar.
Melainkan seberapa tulus kita menjaga amanah,
dan seberapa dalam kita membangun komunikasi dengan Allah dan dengan manusia.

Ramadhan datang.
Dan hati-hati itu telah bersiap menyambutnya.


Oleh: Ustadz H. Samsul Hilal

Ketua Banom Mubaligh DMI Kota Dumai

📱 HP/WA: 0852-1637-1809

0 Comments

🏠 Home