Ceramah Ustadz Samsul Hilal di Mushalla Al-Huda: Menggetarkan Hati, Mengingatkan Kita untuk Memperbaiki Shalat dan Menguatkan Iman

🎙️ Oleh: Ustadz H. Samsul Hilal
Ketua Banom Mubaligh DMI Kota Dumai
📱 HP/WA: 0852-1637-1809

Dumai — Suasana Mushalla Al-Huda tampak hangat dan penuh kekhusyukan ketika Ustadz H. Samsul Hilal menyampaikan ceramah agama yang sarat makna. Dengan gaya khas beliau yang santai, penuh humor, namun tepat mengenai sasaran hati, jamaah yang hadir—termasuk warga sekitar daerah Ayam Buruk—dibawa menyelami kembali hakikat iman, syukur, dan pentingnya shalat dalam kehidupan seorang muslim.



Mengawali dengan Syukur dan Shalawat

Ceramah dibuka dengan ajakan sederhana namun menohok: bersyukur atas nikmat yang tak ternilai—terutama nikmat fisik dan kesehatan. “Banyak orang punya segalanya, tapi jika tubuh tak diberi sehat, semua hilang maknanya,” ungkap Ustadz Samsul.

Beliau juga menegaskan pentingnya bershalawat. Bukan sekadar kebiasaan, tetapi perintah Allah kepada orang-orang yang beriman. Sebuah pengingat lembut bahwa mencintai Rasulullah SAW adalah bagian dari menyempurnakan iman.


Iman yang Membutuhkan ‘Pakaian’

Dalam inti ceramahnya, Ustadz Samsul Hilal mengumpamakan iman sebagai sesuatu yang memerlukan “pakaian”, yaitu amal saleh. Tanpa amal, iman itu akan “telanjang”—tidak terlindungi dan tidak tampak keindahannya.

Beliau mengajak jamaah untuk merenung: sudahkah iman yang kita bawa dilapisi amal saleh? Ataukah hanya tersimpan sebagai konsep tanpa pembuktian?

Shalat sebagai Barometer Kualitas Iman

Ustadz Samsul menegaskan kembali hakikat besar dalam ajaran Islam:
“Tiang agama itu adalah shalat.” Jika shalat seseorang baik, maka baiklah seluruh hidupnya. Jika shalatnya rusak, rusak pula seluruh arah hidupnya.

Namun, beliau mengingatkan bahwa banyak orang shalat tetapi lalai, sebagaimana peringatan Surah Al-Ma’un: fawailul lil mushallin.
Lalai bukan hanya telat melaksanakan, tapi shalat yang tidak memberi efek apa-apa—tidak mencegah perbuatan keji dan mungkar.

Khusyuk: Ruh dari Shalat

Dengan gaya kocak namun penuh makna, Ustadz memberikan contoh keseharian.
Di rumah, shalat sering “kalah” oleh suara TV, musik, atau aktivitas sekitar. Karena itu, masjid menjadi tempat mencari ketenangan dan kekhusyukan.


Beliau mengajak jamaah untuk menikmati shalat, bukan sekadar menggugurkan kewajiban.

Mengingat Kematian, Menjaga Sisa Umur

Di penghujung ceramah, suasana menjadi lebih hening.
Ustadz Samsul mengingatkan bahwa hidup di dunia ini amat singkat—kita semua hanya menunggu giliran kembali kepada Allah.

“Kita tak tahu siapa yang duluan. Yang muda belum tentu lama, yang tua belum tentu sebentar,” ucapnya.

Beliau mengajak jamaah mengisi sisa usia dengan iman, amal saleh, dan shalat yang sungguh-sungguh, sebelum kesempatan itu tertutup selamanya.

Santai, Menghibur, Namun Menyentuh

Ceramah yang berlangsung hangat dan interaktif ini kembali menunjukkan kemampuan Ustadz Samsul Hilal menyampaikan nasihat dengan cara yang mudah diterima: ringan, dekat dengan keseharian, namun mengetuk hati.

Jamaah pulang dengan senyum, tetapi membawa renungan mendalam:
Bahwa iman butuh dijaga, shalat perlu diperbaiki, dan kematian selalu dekat dalam perjalanan hidup kita.




0 Comments

🏠 Home